Upacara Manten – Ritus Menjadi Jawa

Upacara manten atau upacara pernikahan adalah sebuah perhelatan komunikasi simbolis. Upacara itu adalah sebuah ikrar dan pengumuman sepasang mempelai tentang status barunya. Bahwa mereka telah siap mengambil hak dan kewajiban baru.


(kajian antropologi simbol oleh nanda wirabaskara)

Manusia adalah homosimbolicum.  Yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah kemampuannya menggunakan dan mengembangkan simbol yang rumit.  Interaksi antar manusia dalam kehidupan sehari-hari dilakukan melalui komunikasi jutaan simbol yang rumit.  Begitu banyak dan rumitnya simbol yang dipakai dalam interaksi sehari-hari itu sehingga banyak di antara simbol-simbol itu sudah ternalurikan sehingga bisa diungkapkan tanpa lagi disadari, dan banyak juga yang diabaikan.  Tidak jeli, tidak peka, miss komunikasi adalah akibat dari pengabaian-pengabaian simbol-simbol itu.

Dalam tulisan ini saya akan mengkaji komunikasi simbolis yang terjadi dalam upacara manten, dengan mengambil kasus mantenan teman saya, Hasta Indriyana.  Seorang penyair dari Gunungkidul.  Dia menikah dengan gadis pujaannya, seorang guru dari Muntilan pada tanggal 5 Juli 2009.

MENIKAH!

Manten Jawa

Mungkin itu merupakan keputusan besar yang diambil oleh seorang bujang.  Melepaskan masa lajangnya dan memasuki sebuah wilayah baru.  Wilayah kedewasaan penuh.  Setelah menikah, seseorang akan memegang penuh tanggung jawab atas bahteranya sendiri.  Dia bukan lagi menjadi tanggung jawab orang tua.  Sebentar lagi dialah yang (diharapkan) menjadi orang tua yang bertanggung jawab atas bahtera keluarganya.

Masa peralihan antara masa lajang dengan masa berkeluarga ini adalah masa liminal.  Sebuah keadaan ambigu.  Bujang sudah tidak, berkeluarga juga belum.  Kondisi yang tidak pasti ini membuat orang yang menjalaninya menderita demam panggung.  Bingung, tidak pasti, dan canggung untuk menempatkan posisi dirinya dalam tatanan keluarga/masyarakat. Untuk mengantar seseorang melewati masa ini, budaya kita menciptakan ritus.  Upacara manten.

Dalam upacara manten ini ada 3 bekal yang diberikan oleh keluarga/masyarakat kepada mas manten dan mempelainya.  Ketiga bekal itu adalah bekal sosial, bekal spiritual, dan bekal pribadi. Dengan ketiga bekal itu diharapkan keadaan demam panggung dapat diatasi dalam menjalani bahtera rumah tangganya yang masih baru.

1. Bekal Sosial

Ketika menjadi manten, maka seseorang menjadi ’raja sehari’.  Mengenakan pakaian paling bagus dan duduk menjadi pusat di hadapan semua yang hadir.  Istilah menjadi ’raja sehari’ ini mungkin benar, tetapi sekaligus juga paradok.

Menjadi benar karena ketika seseorang menjadi manten, dia dan mempelainya menjadi pusat dari pelayanan yang diadakan selama prosesi upacara.  Mereka selalu berada di depan, dengan banyak macam pengiring. Segala macam uba rampe yang diperlukan dalam upacara selalu dibawakan oleh para pengiring itu.  Mereka tinggal diam saja, melakukan hal-hal yang pokok, dan kemudian duduk manis.

Mempelai duduk di depan
Menjadi raja sehari, duduk di hadapan sejuta rakyat

Menjadi paradok karena semua kemewahan itu diberikan supaya mereka menjadi pusat perhatian.  Menjadi fokus tontonan.  Untuk dilihat oleh semua anggota keluarga sang mempelai, saudara dan handai taulan yang datang—bahkan dari jauh—sehingga mereka tahu bahwa sekarang ada laki-laki baru yang ’masuk rumah’.  Dialah ’sang raja’ itu.

Lebih luas dari itu adalah untuk dilihat semua tetangga yang datang sehingga diketahui bahwa sekarang ada laki-laki yang secara sah boleh datang ke rumah sang mempelai sampai lewat malam atau bahkan menginap.  Tidak perlu digropyok karena dialah mas manten itu.

Jadi upacara manten ini secara sosial adalah sebuah pengumuman hubungan yang sah antara laki-laki dan perempuan tanpa melanggar aturan norma agama dan adat.  Pemahaman masyarakat bahwa hubungan antara mas manten dengan sang mempelai adalah hubungan yang sah tanpa bisa dikenai sanksi sosial merupakan bekal sosial bagi seseorang dalam mengarungi bahtera rumah tangga barunya.  Supaya mereka tidak canggung lagi menempatkan posisi dirinya dalam tatanan masyarakat.

2. Bekal Spiritual
Doa dari para hadirin
Dengan doa dari semua yang hadir, semoga bisa seperti mimi lan mintuna–selalu bersama di setiap kesempatan

Sebagai sebuah ritual, upacara manten adalah sebuah prosesi pemanjatan doa.  Doa untuk mas manten dan mempelainya supaya mereka dikaruniai rejeki yang berlimpah, anak yang sholeh, hidup rukun seperti mimi lan mintuna, gemah ripah loh jinawi, sayuk rukun, tata tentrem, kerta raharja, dan seterusnya. Semua yang baik dipanjatkan.

Doa-doa tersebut dipanjatkan secara verbal oleh Pak Kyai atau Pak Naib yang diamini oleh semua yang hadir. Di samping itu doa juga dipanjatkan melalui simbol-simbol dekorasi, uba rampe, dan semua yang dilakukan selama prosesi upacara. Beberapa ikat padi di gapura pintu depan sebagai doa semoga diberi kecukupan pangan.  Cengkir gading dan janur sebagai doa bahwa (dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini) suami – istri itu masih baru, sehingga kalau ada salah dan khilafnya semoga diberi maaf dan sabar.  Daun beringin sebagai doa semoga kelak bisa tumbuh menjadi (keluarga) yang teduh dan kuat.   Sepasang tandan pisang dan uba rampe lainnya juga mempunyai maksud untuk memanjatkan doa tertentu.

Segala doa yang dipanjatkan untuk mas manten dan mempelai ini adalah bekal spiritual yang diberikan untuk mengarungi bahtera rumah tangga barunya. Supaya mereka, meskipun masih baru, tidak demam panggung dalam menjalani dunia berkeluarganya.

3. Bekal Pribadi

Seluruh keluarga sudah diberi tahu.  Masyarakat luas sudah diberi tahu. Kerajaan supranatural juga sudah diberi tahu.  Semuanya sudah diberi tahu kecuali, tentu saja, yang menjadi center dari upacara ini.  Mas manten dan mempelainya.  Keduanya tentu saja menjadi tokoh yang paling utama untuk diberi tahu tentang bagaimana sebenarnya (aturan) hidup berkeluarga dan bermasyarakat itu.  Bagaimana aturan agamanya dan bagaimana aturan adatnya.

A. Aturan Agama
Kyai
Nasihat spiritual dari Pak Kyai

Aturan agama tentang perkawinan—dalam hal ini menurut Islam—sangat jelas dibacakan ketika prosesi ijab.  Komitmen atau janji manten itu dimulai ketika ijab qobul.  Serah terima.  Dengan ini mas manten menikahi sang mempelai, putri dari bapaknya dengan mas kawin yang dibayar tunai.  Talak mas manten akan otomatis jatuh ketika terjadi peristiwa tertentu, seperti tidak memberi nafkah selama sekian bulan berturut-turut.   Kalau pada suatu hari kelak sang istri mengembalikan mas kawin yang dibayarkan ketika ijab itu, maka itu berarti talak otomatis jatuh, dan seterusnya.

Dengan menjalani prosesi ijab ini mas manten dan mempelainya akan tahu bahwa ikatan perkawinan yang membuat mereka sah sebagai pasangan selama 24 jam sehari itu bukanlah sesuatu yang hanya perlu diikrarkan sekali dan akan berlaku untuk selamanya.  Kokoh seperti cor-coran beton.  Ikatan yang menjadikan sah hubungan antara mas manten dan mempelainya ini adalah sesuatu yang harus terus dipelihara.  Cara memeliharanya antara lain dengan mas manten memberikan nafkah lahir batin kepada istrinya. Sang istri tidak mengembalikan mas kawin yang diberikan saat ijab qobul, dan seterusnya.  Ada aturan-aturan yang harus dilakukan dan larangan-larangan yang harus dihindari untuk tidak membatalkan sahnya ijab qobul.

B. Aturan Adat (Jawa)

Aturan adat tentang bagaimana hidup berumah tangga, bagaimana hubungan antara suami dengan istri, bagaimana hubungan antara anak dengan orang tua—atau menantu dengan mertua—setelah manten disampaikan melalui simbol-simbol yang lebih rumit. Lebih tersamar.

Dalam tradisi Jawa ada pepatah yang mengatakan ”bujang dugang, esem lurah, semu bupati”.  Pepatah ini mempunyai arti bahwa untuk membuat seorang bujang, seorang jejaka, atau seorang anak bau kencur mengerti tentang sesuatu, dia harus didugang dulu.  Diberi tahu secara lugas dan dengan kekerasan. Sedangkan kepada seorang dengan kelas lurah, dia tidak perlu diberi tahu sejelas itu. Keterus-terangan adalah memalukan bagi kelas lurah. Cukup dengan senyum, maka seorang dengan kelas lurah akan bisa mengerti.  Apa lagi untuk level bupati.  Bahkan senyum pun tidak lagi diperlukan.  Semuanya cukup dengan semu.  Dengan simbol-simbol dan bahasa gerak-gerik, seseorang dengan level bupati akan sudah mengerti, meskipun bagi orang-orang dengan level di bawahnya sepertinya dia belum diberi tahu.

Ketika seseorang berani memutuskan untuk melepas status bujangnya, dia dianggap bisa membaca ungkapan-ungkapan yang tersirat.  Tidak lagi perlu dijelaskan dengan lugas.  Oleh karena itu dalam prosesi upacara manten dia dianggap bisa mengerti semua pemberi tahuan, saran, nasihat, dan berbagai peraturan yang disampaikan melalui simbol-simbol yang kompleks sehingga tidak layak bagi mereka yang sudah dinobatkan dalam upacara manten untuk berdalih bahwa mereka belum tahu karena masih temanten baru.

Manten Jawa
Garuk-garuk kepala
Ritus Pewarisan Pranata Sosial 

Upacara manten ini menjadi ritus bagaimana keluarga baru ini tunduk menjalankan norma sosial yang ada. Hal ini menjadi syarat terciptanya harmoni antara kehidupan rumah tangganya dengan kehidupan sosial masyarakat luas.

Sebagai contoh, bagaimana hierarki gender ditanggung jawabkan pada mas manten dan mempelainya dalam prosesi upacara manten. Pelimpahan hubungan hierarkis antara laki-laki dengan perempuan ala Jawa masa kini sangan jelas disampaikan dalam prosesi balang-balangan suruh (saling melempar daun sirih) dan menginjak telor.

Dalam prosesi balang-balangan suruh, apa yang dibisikkan oleh para pengiring di belakang mas manten dengan apa yang dibisikkan oleh para pengiring di belakang sang mempelai ketika prosesi balang-balangan suruh tentulah berbeda.  Para pengiring di belakang mas manten akan membisikkan untuk segera melempar suruh tepat di jidat sang mempelai, sedangkan para pengiring di belakang sang mempelai akan membisikkan pada sang mempelai untuk tidak melempar suruhnya dulu sebelum dia menerima lemparan suruh dari mas manten dan dia dibisikkan untuk melempar suruh itu hanya di kaki mas manten.  Dalam prosesi menginjak telor mas manten yang menginjak telor dan mempelainya yang membasuh kaki mas manten yang kotor oleh pecahan telor. Di sinilah hierarki gender itu diwariskan dalam budaya Jawa masa kini.

Hierarki gender ala Jawa yang semacam itu bukanlah sejak dulu kala.  Hierarki gender semacam itu diciptakan ketika kekuasaan Jawa kehilangan taringnya.  Pada jaman penjajahan Belanda.  Alih-alih karena tidak mampu lagi berkuasa, para raja dan para ksatria Jawa di bawah ketiak kekuasaan penjajah Belanda waktu itu membangun kekuasaan mereka atas para perempuannya.  Jauh sebelum itu, perempuan Jawa bahkan bisa menjadi raja, seperti pada masa pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi.

Kreasi Baru 
Penyanyi yang cantik
Sentuhan baru, dengan hiburan organ tunggal dari Ria Entertainment

Pada masa dulu hiburan dalam prosesi mantenan juga mengandung unsur piwulang untuk mas manten dan mempelainya.  Hiburan pada masa dulu misalnya tari sepasang laki-laki dan perempuan dengan dandanan dan tingkah yang lucu. Tarian itu sebenarnya adalah nasehat yang disampaikan terutama sekali pada mas manten dan mempelainya—orang yang sedang ditasbih menjadi Jawa—supaya mereka menjadi Orang Jawa yang selalu ingat bahwa menjadi Orang Jawa pada masa sekarang adalah menjadi bahan tertawaan.

Penyanyi berkomunikasi dengan penonton
Sang penyanyi yang ’menggoda’ pak kumis sempat membuat suasana menjadi gayeng

Pada masa sekarang ini, hiburan dalam prosesi upacara manten telah bergeser menjadi hiburan semata.  Pergeseran-pergeseran yang terjadi semacam ini karena orang-orang sudah tidak mampu lagi membaca pesan-pesan yang disampaikan ataupun doa-doa yang dipanjatkan.  Ketika pesan-pesan itu dianggap tidak ada, ketika dianggap hiburan semata, maka pertimbangan orang-orang pada jaman sekarang lebih mementingkan unsur hiburannya.  Hiburan yang gayeng, menarik, dan populer menjadi pilihan yang ingin disajikan.

4.  Fade Out

Kalau dilihat secara menyeluruh, dalam paket upacara manten itu sebenarnya Orang Jawa pada jaman dulu juga menyampaikan pesan pada masyarakat Jawa jaman sekarang tentang apa yang sebenarnya dulu terjadi pada peradaban Jawa, dan kabar-kabar apa yang disiratkan dengan simbol-simbol yang sangat halus, sehingga bisa lolos dari sortiran penjajah Belanda jaman dulu.

Orang Jawa jaman dulu yang terpuruk di bawah kekuasaan penjajahan Belanda masih menanamkan harapan mereka melalui berbagai simbol-simbol yang sangat rumit dengan harapan suatu saat ada yang mampu membaca pesan itu dan membangun lagi kejayaan Jawa.

Gunung dan jalan
Merapi, pemandangan di jalan pulang, seperti pada lukisan anak-anak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *