Dapur yang Aksesibel bagi Anak, Memberi Ruang untuk Belajar dan Mandiri

Dapur yang aksesibel bagi anak adalah sebuah konsep yang penting bagi keluarga. Meskipun konsep ini agak tidak lazim tetapi memiliki sejuta manfaat.

Pojok Memasak

Liputan kali ini masih tentang kediaman Trah Lutju dengan berbagai “pojok suasana”-nya. Kali ini kita akan mengulas tentang “pojok memasak”. “Pojok memasak” ini adalah sebuah ruang aktifitas masak-memasak bagi seluruh anggota keluarga.

“Pojok memasak” ini bukan sekedar dapur tetapi juga harus bisa memberikan ‘suasana’ dalam kegiatan memasak. Di samping itu sebagai ruang bagi keluarga, dapur ini harus bisa digunakan oleh semua anggota keluarga, termasuk anak-anak. Jadi dapur ini harus ramah anak.

Latar Belakang Konsep Dapur yang Aksesibel bagi Anak

Sudah menjadi kemantebanku bahwa anak-anakku harus mandiri. Sekolah daring mereka mengurusi sendiri. Memang masih harus selalu diingatkan. Ternyata anak-anak lebih memilih bermain dari pada mengerjakan tugas sekolah. Membuat layangan, sepedaan, dan memancing ketika musim ikan. Hal itu membuat saya mengeluarkan aturan, tidak boleh keluar rumah atau tv sebelum selesai tugas sekolah.

Termasuk juga urusan makan, anak-anak harus mandiri. Kecuali si ragil yang masih suka disuapi karena males makan, kakak-kakaknya sejak balita sudah makan sendiri. Hayu bahkan sudah lupa ketika saya tanya, kapan terakhir disuapi? Ketika gak ada lauk, mereka memasak sendiri. Sekedar menggoreng telur, nasi goreng, memasak sop, dan masakan sederhana mereka sudah biasa.

Pojok memasak

Oleh karena itu ketika membangun rumah, saya desain untuk segala sesuatunya aksesibel bagi anak-anak. Dapur saya bikin rendah, karena saya sudah membayangkan anak-anak memasak sendiri, sedini mungkin.

Mungkin sedikit beda dengan orang tua pada umumnya yang banyak khawatir, saya memberikan kesempatan anak-anak. Sembarang tumpah, pecah, goreng telur tapi isi telurnya dibuang sedang kulitnya yang masuk wajan, semua itu tentu terjadi, dan saya tidak masalah.

Dapur yang Aksesibel bagi Anak dan Sejuta Manfaatnya

Dapur dengan konsep “pojok memasak” mempunyai sejuta manfaat. Di antaranya adalah bisa memberi ruang interaksi pembelajaran antara orang tua dengan anak-anak. Pembelajaran melalui praktek langsung seperti ini mampu memunculkan kegembiraan pada anak-anak dalam belajar. Di samping itu hubungan antara orang tua dengan anak-anak terbangun menjadi kuat. Vidio di bawah menggambarkan bagaimana proses pembelajaran membuat roti.

Konsep “pojok suasana” yang dibangun dengan memberikan ruang yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh anggota keluarga. Hal ini membuat kegiatan memasak tidak hanya berhenti pada kegiatan memasak saja. Memasak bisa menjadi aktifitas untuk menikmati suasana. Memasak juga bisa menjadi aktifitas untuk mengekspresikan suasana hati. Di “pojok memasak” ini dapur menjadi tempat untuk bergembira bagi seluruh anggota keluarga. Vidio di bawah ini menunjukkan bagaimana kegembiraan menyambut lebaran di masa laukdaun dibangun di “pojok memasak” ini.

Terakhir, hal yang menjadi tujuan utama dari dapur yang aksesibel bagi anak ini adalah anak menjadi mandiri, terutama untuk masalah makan mereka. Tidak ada cerita anak-anak kelaparan akibat kesibukan orang tua ataupun karena tidak berselera dengan masakan orang tua.

Begitulah beragam “pojok suasana” saya buat supaya rumah menjadi tempat untuk bersenabersenang-senang. As a wise man said, “imperio del domeinsio,” jangan sampai rumah kita suasananya seperti medsos πŸ€£πŸ˜ƒπŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜

tulisan tentang kediaman Trah Lutju dengan konsep rumah tempat bersenang-senangΒ 

(/nan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.