Selat Solo, Warung Legendaris Bernuansa Pasar Barang Antik

Solo adalah kota yang mampu menghadirkan masa lalunya pada masa kini. Bermacam bangunan cagar budaya dan kuliner klasik hadir memberi warna kota Solo menjadi kota bersejarah. Selat Solo adalah Kuliner dari masa lalu. Sebuah kecemerlangan adaptasi budaya Solo atas masakan Barat “salad”. Ketika masuk ke Solo kuliner Barat itu terasa aneh di lidah orang Solo. Tanpa perlu anti pati, orang Solo memodifikasi kuliner tersebut dengan bumbu rempah sehingga mempunyai cita rasa yang pas di lidah masyarakatnya.

Solo Tempo Doeloe

Solo adalah kota dengan dua nama. Resminya kota ini bernama Surakarta. Namanya sejak jaman kerajaan: Kasunanan Surakarta. Sekarang lebih dikenal dengan nama Solo. Solo semakin dikenal karena Presiden Indonesia Joko Widodo berasal dari Solo.

Di masa lalu, Solo merupakan kiblat peradaban tanah Jawa.  Solo juga disebut sebagai Surakarta. Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Pakubuwana X bahkan merupakan sosok yang sangat disegani Belanda pada masa kolonial. Bagaimana tidak, Belanda, eh VOC yang berusaha menaklukkan tanah Jawa sangat berharap Raja Surakarta Hadiningrat kala itu untuk tunduk padanya. Yang terjadi, sang Raja justru show of force dengan berkeliling tanah Jawa menggunakan segala lambang kebesaran, sang Raja menunjukkan kepada rakyatnya bahwa Surakarta sama sekali tidak berada dalam kekuasaan VOC. Dengan kerendahan hati, sang Raja membagikan beberapa barang kepada rakyat. Tentu saja pemberian sang Raja merupakan berkah yang luar biasa besar bagi siapapun yang menerima.

Pada masa Pakubuwana X, Surakarta Hadiningrat memang mencapai zaman keemasannya. Sang Raja mempersiapkan putra mahkota dengan selalu mengajaknya ke mana-mana & mengajarkan bagaimana menjadi seorang raja. Harapan tinggal harapan. Sang Raja harus menahan hati. Salah seorang anak laki-lakinya yang lain bersedia bekerjasama dengan VOC dengan “madeg” atau naik tahta dengan dukungan VOC sementara sang ayah bahkan belum mangkat.

Tentu saja hal ini membuat sang Raja sangat murka. Namun besar hati harus diutamakan. Beliau memilih untuk meminta sang putra mahkota untuk mengalah, demi menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Pakubuwana X mangkat tanggal 1 Februari 1939 dan dianggap rakyatnya sebagai Sunan Panutup atau Sunan yang terakhir1Sumber: Wikipedia. Beliau dianggap sebagai raja terbesar Kasunanan Surakarta.

Solo Masa Kini

Peninggalan kebesaran Kasunanan Surakarta di masa lalu masih tampak di sana-sini. Jalan-jalan raya di kota Solo pun ukurannya lebar-lebar. Pada masa sekarang, cukup memprihatinkan juga jika memikirkan bagaimana kebesaran sebuah kerajaan hilang begitu saja dengan hanya meninggalkan ikon-ikon maupun simbol-simbol bisu di seantero kota. Namun demikian, roda zaman tetap berputar. Solo sekarang menjadi sebuah kota, administratif bagian dari Republik Indonesia.

Kota Solo, di luar suhu udara yang panas, memang mengasyikkan untuk dieksplorasi. Di sepanjang jalan, ada saja warung atau tempat nongkrong ciamik yang anti mainstream. Kalau sedang berkunjung ke Solo saya biasanya menyempatkan diri untuk sekedar jalan-jalan mencari sesuatu yang tidak penting haha…

Kali ini, saya mengajak anda jalan ke kawasan Serengan. Kuliner khas Solo yang kita kunjungi kali ini adalah “selat”. 

Warung Selat Mbak Lies

Warung ini terletak di sebuah gang di kawasan Serengan. Sebuah rumah penduduk dengan banyak sekali porselin Cina dan tirai gantungan yang terbuat dari untaian kerang. Sekilas, rumah itu tampak seperti sebuah toko barang-barang perabotan keramik dengan dua buah bangku panjang di depannya.

Sebenarnya saya agak ragu-ragu. Jangan-jangan itu bukan warung yang kami tuju karena penampakannya benar-benar mirip toko souvenir. Tapi tampaknya adik ipar saya tetap melangkah masuk ke toko itu. Dan ternyata tepat di depan gerai bagian atas ada identitas warungnya:

WARUNG SELAT MBAK LIES

TIDAK BUKA CABANG

Syukurlah, sepertinya kami tidak salah masuk. Kami pun memilih sebuah meja, yang paling dekat saja dari gang, malas jalan ke dalam. Kami duduk di meja dengan identitas RT 002. Tampaknya mereka mengibaratkan warung mereka ini dengan sebuah kampurng karena meja di sebelah kami ada tulisan RT 001, serta di sandaran bangkunya ada tulisan “Pak RT”.  Dan setelah kami duduk, ternyata, rumah di seberang jalan juga merupakan bagian dari warung. Hanya saja, di seberang tidak ada kursi tapi lesehan.

Selat yang Mak Nyuss

Tidak banyak orang di dalam warung, mungkin hanya dua atau tiga kelompok saja yang sedang makan atau duduk saja, mungkin sedang menunggu pesanan. Saya rasa sepinya pengunjung karena kami datang sudah kelewat jam makan siang, jam setengah tiga. Karena sebelum keluar rumah saya sudah makan, sementara adik ipar saya belum makan karena sebelumnya sempat makan penganan di rumah, akhirnya adik ipar dan anak bungsu saya pesan makanan. Saya hanya pesan es teler. Adik ipar saya pesan selat galantin kuah saos dan es blewah. Bisa terbayang kan segarnya es blewah pada siang hari di Solo dengan suhu kala itu sekitar 39 derajad Celsius: sugeerrrr……

Selat Galantin Kuah Saos
Selat Galantin Kuah Saos

Sementara anak bungsu saya minta selat galantin kuah segar setelah membaca satu-satu semua menu yang ada di daftar menu dan menanyakan satu-satu juga terbuat dari apa dan rasanya bagaimana. Meskipun baru kelas 1 SD, anak saya memang terbiasa memilih apapun sesuai dengan keinginannya, tanpa bisa dipengaruhi siapapun.

Selat Galantin Kuah Segar
Selat Galantin Kuah Segar

Selat Solo

Bagi yang belum tahu apa itu selat atau yang lebih dikenal orang luar daerah dengan Selat Solo, selat Solo adalah kuliner khas daerah ini yang terdiri dari kentang goreng (terdiri dari kentang wedges dan  juga keripik kentang), buncis dan wortel rebus, telor pindang, acar ketimun dan bawang merah, serta daging (bisa berupa steak daging bisa juga galantin atau daging cincang yang dibuat semacam perkedel atau sosis besar yang dipotong atau dalam istilah di film kartun Spongebob disebut patty) yang diberi selembar daun selada segar lalu disiram kuah.

Sambil menunggu adik ipar dan anak bungsu saya makan, saya duduk sambil melihat seisi warung. Di depan saya ternyata ruang kasir. Antara tempat kami duduk dan ruang kasir hanya dipisahkan oleh rak tinggi berisi patung-patung dan guci-guci kecil berukuran sekepalan tangan orang dewasa yang disusun rapi. Di bawahnya, terdapat sekumpulan buah segar seperti blewah, nanas, pisang, dan sirsak yang disusun seolah-oleh buah-buahan itu bagian dari sebuah lukisan di kanvas yang berupa tembok bata berundak dengan cat kuning serta guci, lidah buaya dan kolam-kolam kecil yang ditunggui para kodok.

Sebenarnya, meja bundar di mana makanan dan minuman disajikan sudah cukup kecil, namun meja itu masih juga ditambahi sebuah vas yang cukup besar berisikan bunga-bunga yang terbuat dari kaca. Meskipun terasa semakin sempit, tapi terbayarkan dengan lezatnya Selat Mbak Lies yang ternyata kondang di kalangan para artis ibukota. Saya membuktikan kelezatan selat Mbak Lies ini ketika mencicipi pesanan adik ipar & menghabiskan selat pesanan anak saya karena dia kekenyangan.

Eksotisme Warung Ini

Setelah selesai makan, baru saya menyadari kalau bagian warung di seberang jalan juga memajang segala macam jenis sapu ijuk dan sapu lidi. Tampaknya seperti jualan alat-alat kebersihan rumah tangga tradisional.

Meskipun berlokasi di gang yang cukup sempit, warung selat yang satu ini layak dijadikan referensi ketika berkunjung ke Solo. Oh iya, satu lagi, warning: selat di warung ini tergolong cukup mahal jika dibandingkan dengan harga selat kebanyakan di Solo. Namun yang jelas, sebanding lah dengan kelezatan dan kepuasan yang didapatkan. Dan jangan kaget jika ada ibu-ibu yang mengupas wortel yang duduk di tangga di samping meja anda makan, karena mungkin ini menjadi bagian atraksi dari warung ini.

(/any)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.