Pondok Pabelan, Pesantren Bersejarah

Belasan tahun telah berlalu sejak saya selalu melewati plang “Pondok Pabelan” ketika saya berangkat kuliah. Tidak sekalipun saya pernah mengunjunginya. Nah, ketika mendapat tugas mengurus kerjasama dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Pabelan ini, saya gembira sekali.  Agenda hari ini adalah menemui pimpinan Ponpes Pabelan di Mungkid, Kabupaten Magelang.

Pondok Pesantren Pabelan ini dalam sejarahnya turut mewarnai perjuangan bangsa. Tahun 1825-1830 terjadi perang Diponegoro melawan Belanda. Pada waktu itu Kiai Muhammad Ali selalu membantu dan mem”bela” pasukan Diponegoro. Di sebuah hutan bambu di daerah ini Kiai Mojo dan anak buahnya dulu dijadikan markas. Daerah ini kemudian dinamai “Pabelan”. Tempat para pembela.

Masjid Tua Ponpes Pabelan

Mendapat kesempatan berkeliling pondok adalah kesempatan untuk melihat sejarah. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah masjid tua yang ada di dalam ponpes. Masjid ini didirikan tahun 1820 oleh Kiai Muhammad Ali. Tahun depan, 2020, masjid ini akan tepat berusia 200 tahun.

Kondisi masjid ponpes Pabelan masih sangat bagus dan terawat. Tak ada retak sedikitpun. Temboknya tebal yang membuat suasana di dalam masjid sangat nyaman & sejuk. Kayu-kayu jati besar dan tua menjadi saka guru (utama) penyangga masjid.

Kaca patri berwarna-warni yang cantik merupakan bawaan masjid, konon kabarnya tidak pernah diganti. Mimbar pun merupakan mimbar tua yang masih belum diganti. Sayangnya, lampu tua asli bawaan bangunan masjid belum lama ini digantikan dengan lampu Kristal modern. Hal ini dilakukan karena lampu yang lama rusak dan pihak ponpes tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Untungnya, seorang teman yang ikut berkunjung adalah seorang arkeolog. Beliau menyarankan pihak ponpes membawa lampu kuno yang rusak itu ke Balai Konservasi Borobudur yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi ponpes. Menurut beliau, mungkin pihak balai bisa membantu memperbaiki lampu kuno tersebut.

Jam Bencet

Begitu keluar dari masjid, kami diajak melihat jam bencet. Jam bencet merupakan jam matahari yang digunakan untuk menentukan waktu sholat dhuhur dan ashar. Baru kali ini saya melihat langsung jam legendaris yang sering saya dengar waktu pelajaran agama di SMP dan SMA.

Jam Bencet
Jam Bencet

Saya juga diajari Bu Yai (istri Pak Kiai) bagaimana membaca jam bencet ini.  Jika bayangan paku jatuh tepat di tengah cekungan, itu artinya matahari tepat berada di atas kepala & sudah memasuki waktu dhuhur. Jam ini juga sama tuanya dengan masjid di atas, dan masih digunakan sampai sekarang. Luar biasa!!

Saya, bu yai & teman arkeolog di samping jam bencet

Tradisi Untuk Hidup Sederhana

Pondok Pabelan Di depan masjid, terdapat sebuah bangunan panjang terbuat dari anyaman bambu. Menurut keterangan bu yai, itu merupakan pondokan untuk anak kelas 12 alias kelas 3 SMA. Anak-anak kelas 3 merupakan contoh bagi adik-adik tingkatnya. Jika mereka, para senior yang keren saja tidak keberatan tinggal di rumah gedek maka tidak ada alasan bagi adik-adik tingkatnya untuk mengeluh minta tinggal di bangunan mewah.

Pondok Pabelan Ponpes ini setidaknya memiliki santri 500 anak, laki-laki dan perempuan yang tinggal di asrama yang terpisah. Biasanya para santri yang sudah tinggal beberapa lama di sini enggan pulang ke rumah (yang ada justru para orang tua yang berat hati ditinggalkan anak mereka). Bagaimana tidak kerasan? Pondok ini berada di lokasi yang sangat nyaman.

Halamannya super luas. Masih banyak pohon besar. Perpustakaannya pun terlihat sangat nyaman. Belum lagi para pengasuh dan guru yang keren dan cukup progresif. Ponpes ini pernah mendapatkan penghargaan Aga Khan. WOW!! Pasti keren sekali mondok di ponpes ini.

(/an)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.