Melihat Kembali Aktualitas Baju Kebaya – Sebuah Tradisi yang Kembali Menghangat

Semua orang Indonesia tahu kekayaan tradisi yang dimiliki zamrud katulistiwa ini. Baju kebaya merupakan pakaian adat khusus perempuan yang dimiliki oleh banyak suku bangsa di Indonesia. Karenanya, ada berbagai macam kebaya di mana masing-masing memiliki perdetaan detail yang sangat khas. Sebut saja kebaya kartini yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Ada juga kebaya encim yang merupakan pakaian tradisional orang Betawi yang banyak mendapat pengaruh dari Cina. Ada juga kebaya Bali yang rata-rata menunjukkan eksotisme tubuh perempuan.

Baju Kebaya Pasca Kemerdekaan

Perihal baju kebaya, di era pasca kemerdekaan Republik Indonesia, banyak pendapat yang pro dan kontra. Dulu, sekitar 20 tahun yang lalu, ada beberapa kelompok yang menggugat kebaya dengan anggapan bahwa memakaikan pakaian dengan model kebaya kepada perempuan merupakan percobaan pengekangan kebebasan fisik perempuan, karena biasanya penggunaan kebaya wajib dibarengi dengan memakai kain panjang yang dililitkan pada pinggang.

Dengan memakai kain di bagian bawah tubuh, kaki hanya bisa bergerak 10 – 20 cm jika melangkah. Karenanya, gerakan tubuh menjadi terbatas, jika tidak hati-hati bisa mengakibatkan tubuh terpelanting. Dari perspektif inilah kebaya dianggap “diciptakan” untuk membatasi perempuan.

Dulu dan Sekarang

Pada zaman dahulu, di saat pemilihan pakaian masih erat terkait dengan tradisi dan terkandungnya harapan komunal pada sosok si pemakai baju, maka anggapan di atas bahwa kebaya ada untuk membatasi perempuan, bisa saja ada benarnya. Namun demikian, pada masa kini, kebaya hanya menjadi sebuah pilihan jenis pakaian, hampir-hampir tidak lagi menyentuh nilai filosofis apapun.

Baju Kebaya

Meskipun demikian, ada beberapa upaya di mana pemerintah daerah di wilayah tertentu berusaha menggalakkan pemakaian baju adat pada hari kerja tertentu, misalnya di Bali dan Yogyakarta. Ibarat kapur barus, tidak digunakan maka akan menguap, demikian juga dengan tradisi. Karena itu, penggalakan kembali bisa jadi menjadi salah satu upaya melestarikan tradisi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.