Makan di Luar, Sebuah Alternatif Survival

Sejak lulus SMA, saya memulai kehidupan jauh terpisah dari rumah. Jika sebelumnya, semua kebutuhan makan selalu dipenuhi oleh ibu saya, maka pasca SMA hal itu sudah tidak berlaku lagi. Sebenarnya saya tipe orang yang tidak terlalu suka makan di luar. Bagi saya, makanan rumah selalu yang terbaik. Apapun yang ibu saya masak, saya selalu menikmati. Kebetulan ibu saya adalah seorang yang cukup praktis. Jadi untuk sehari-hari yang sering terhidang di meja   adalah sup, sayur ca, tumis, terik tahu, lodeh, lauknya tempe atau tahu goreng, sementara kalau pagi yang jarang ketinggalan adalah telur dadar, sebutir telor dibagi tiga hahaha…..

Kalau acara khusus seperti lebaran, opor ayam baru muncul. Opor pun muncul tidak sendirian, pasti ditemani sambel goreng kentang dan putren – telur puyuh lombok ijo, serta tidak lupa ketupat. Opor merupakan hidangan spesial yang selalu dinanti. Selain itu, kadang kami sekeluarga sangat bahagia ketika nenek (dari pihak ibu) datang berkunjung karena nenek biasa membawa dendeng ragi. Dendeng ragi ini, kata ibu saya, adalah srundeng kelapa yang di dalamnya dimasukki potongan daging sapi. Rasanya memang luar biasa enak.

Hobi Memasak

Kembali ke masa setelah SMA. Menjadi anak kost membuat saya merasa “kurang” karena dapur di kost selalu minimalis. Cuma ada ceret kecil untuk merebus air sama panci untuk bikin mie instant (ga sehat ya, jangan ditiru). Sejak saya SD, saya sudah mulai masak sendiri apa yang ingin saya makan. Bisa saja ibu saya masak apa, saya pingin yang lain maka saya masak sendiri khusus untuk saya, kecuali kakak laki-laki saya order minta, maka porsi akan saya tambahi. Makanya ketika jadi anak kost, saya agak merasa kurang bisa mengekspresikan hobi memasak saya.

Jika buat kebanyakan orang makan di luar merupakan kesenangan, tidak demikian bagi saya. Makan di luar jarang membuat saya bahagia. Sebenarnya (dulu) saya tidak terlalu suka makan, tapi saya suka sekali masak. Jadilah tubuh saya ceking sampai lulus kuliah S1. Setelah lulus, saya sempat bekerja sekitar 3 tahun, pindah-pindah ke beberapa NGO. Kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S2 di Belanda. Nah, di Belanda ini saya tinggal di sebuah flat besar yang berbagi dapur dan ruang makan dengan 15 orang lainnya dari berbagai negara. Di sini dapurnya besar, alat masaknya lengkap. Pokoknya surga buat saya dan saya masak sehari bisa tiga kali, maksudnya untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Di akhir masa studi saya yang 1,5 semester, saya pulang ke Indonesia dalam kondisi padat berisi, berat badan saya naik hingga 8 kg.

Makan di Luar sebagai Survival

Jangan dianggap bergaya ya, hahahah…, sekali lagi, sebenarnya saya tipe orang yang tidak terlalu suka makan di luar. Sejak Agustus 2016, saya mulai bekerja “ngantor”. Tapi satu setengah tahun pertama hanya terikat kontrak by project saja, jadi bisa datang dan pergi sesuka hati. Nah, mulai Januari 2018, saya sudah dijadikan staff, jadi masuk jam 7 pagi pulang jam 4 sore. Jadilah saya terpaksa sarapan dan makan siang di kantin kantor. Sarapan di kantin sebenarnya nyaman juga, selain enak, bersih, juga banyak pilihan. Selain itu, harga makanannya pun rata-rata lebih murah daripada warung di luar kantor.

Namun begitu, saya masih kadang memperjuangkan hobi memasak saya dengan membawa bekal untuk sarapan. Pada prakteknya, saya sering membawa bekal sarapan saya ke kantin dan menambah lauk di sana hahaha…. Bagi saya, makan tanpa memasaknya itu tetap kurang afdol. Ya hanya sebatas survival saja karena saya butuh sarapan.  Demikian juga dengan makan siang. Sebenarnya, kantin kantor sudah cukup lengkap. Di sana ada tiga warung berjejer dengan menu ramesan, soto, bakso, tongseng ayam maupun kambing, lotek, gado-gado, lontong tahu telor Blora, sup bayam, dll. Namun terkadang, jika semua mahasiswa sudah aktif kuliah, kantin yang tiga itu pun akan kewalahan dan kami para karyawan kadang harus gigit jari karena kehabisan. Kalau sudah begini, pilihannya hanya makan di luar atau gofood. Opsi pertamalah yang paling sering dipilih.

Terkadang kalau hari sedang panas dan malas keluar kantor, baru pesan makanan online. Minggu lalu di mana ada seorang kolega yang dengan baik hati menraktir makan siang Ikan Bakar Rasa Sayange yang rasanya otentik kuliner Ambon, lengkap dengan ibu, kasbi, pisang rebus dan papeda.

Tapi kembali lagi, beli makan di luar itu buat saya hanya survival saja. Seenak apapun makanan beli, tetap lebih nikmat dan puas kalau belanja bahan sendiri (apalagi hasil kebon sendiri) dan mengolahnya sendiri.

(/any)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.